Bermain bersamaku dong!!! :”kata kambing”.
Sobat siroh, ekspresi sikapmu nampak terlihat alami saat bermain. Tersenyum dengan leluasa ketika ada yang menyenangkan, bersedih tanpa skenario saat mengharukan, marah melotot saat ada yang membuat kesal. Namun, seharusnya disetiap akhir dari permainan dapat melatih diri untuk berkarakter iman. Apakah bisa ?
Sobat siroh, tempat-tempat seperti apakah yang membuat kita senang untuk bermain?. Lalu apakah permainan yang kita lakukan itu melibatkan seluruh anggota tubuh ?. Kalau melibatkan seluruh anggota tubuh, ini merupakan tanda kita sedang belajar menambah keimanan. Apakah mungkin ?
Sobat siroh, bermainmu sekarang lebih banyak di ruang-ruang yang terbatas dengan sekat-sekat, mata dan jari jemari yang paling dominan dalam permainanmu. Anggota tubuh lainnya hampir diam membisu. Sedikit sekali interaksi dengan sobat-sobat yang lain. Sehingga emosi tidak muncul alami dari interaksi sesama makhluk hidup yang diciptakan Allah. Games online dan playStasion jadi teman bermainmu Apakah benar ?
Bermain bersamaku dong!!!, “kata kambing”, Kalimat yang tersirat dari kebiasaan Nabi kita saat melalui masa-masa hidupnya. Dalam sejarah, hampir semua nabi dan para sahabat masa kecilnya menggembala kambing. Artinya, waktu-waktu bermainnya ada yang bersama kambing. Ada kesabaran, saat mengejar kambingnya terpisah dari kerumunan. Ada kejujuran saat memberikan makanan yang seharusnya kambing makan. ( Misal : rumput tidak mungkin diganti dengan batu bata). Ada kepemimpinan saat mengatur kambing untuk tetap mengkuti sang penggembala. Juga, seluruh fisik terlibat. Dari menggembala kambing, Kita belajar karakter iman sekaligus kita menjaga fitrah tubuh untuk terus bergerak.
Sobat siroh, Seharusnya setiap permainan yang kita lakukan BISA melatih karakter iman. Dari kambing yang biasa digembala oleh nabi , merupakan pesan untuk anak-anak dan remaja kembalilah pada permainan yang melibatkan seluruh fisik. Ketika ada konflik dengan teman, saat itulah kita belajar mengendalikan emosi. Ketika ada kemenangan saat bermain, saat itu juga kita berbagi kegembiraan dengan teman-teman yang lain.
Sobat siroh, seharusnya saat ini sangat MUNGKIN untuk memulai kembali bermain seperti nabi. Bermain di alam terbuka, dengan binatang ternak yang digembala, melibatkan Makhluk hidup secara nyata. Ketika alam ini ingin memberitahukan tentang ilmu baru. Maka, diri kita akan langsung merasakan dengan menyentuh alam ini. Karena kita punya panca indera. Panca indera membantu kita untuk berkarakter iman.
Sobat siroh, Mudah-mudahan TIDAK BENAR waktu kita habis di games online dan playstasion. Sehingga terus bermain bersama teman-teman dan juga kambing. Mari kita belajar pada nabi kita, yang semasa kecilnya adalah “Penggembala kambing”.
Sobat siroh, momentum mendekati idul adha ini cobalah kita cermati, ada apa dengan kambing. Kenapa kambing menjadi binatang favorit nabi untuk digembala? Apakah ada pelajaran yang tersirat dari gerak-gerik kambing? Pergilah ke jalan-jalan menuju lokasi penjualan kambing qurban. Dengarkan suaranya…mmmbeeee….mmmbeeeee…mmmbeeee ( artinya : “main bersamaku dong!!!)
Wallahu’alam
Selasa, 16 November 2010
DARI NABI UNTUK ANAK INDONESIA
5 JARI TANGAN
Sobat siroh, ketika membaca tulisan ini konsentrasikan pada lima jari kita. 5 jari yang mengisyaratkan makna. Makna yang tersimpan jika dikepalkan , dibuka, ditutup, dan dibolak-balik. Inspirasi 5 jari menjadi bahan pengingat dan penyemangat untuk berbuat . karena ternyata ada Nabi dan khulafaurasyidin di 5 jari kita.
Sobat siroh, cobalah perhatikan :
1. jari tengah, ukurannya lebih panjang dari jari-jari lainnya. Ukuran yang lebih panjang dan berada ditengah merupakan symbol seseorang idola yang keilmuwannya lebih tinggi dan mau berada ditengah-tengah. Nabi Muhammad SAW, seorang nabi yang tak diragukan lagi keilmuwannya dan pernah menjadi penengah ketika kaum quraisy berebut peletakkan batu di ka’bah (hajar aswad). Nabi, memberikan inspirasi dan solusi disetiap permasalahan umatnya. Bukan hanya permasalahan negara, politik, ekonomi, dan segala macam pelak pelik kehidupan orang tua. Tapi sangat serius mengurusi anak-anak dan remaja.
Contoh sederhana, ketika nabi memberikan kepercayaan anak-anak muda untuk ikut berperang yang saat itu usia mereka antara 18 – 25 tahun. Bahkan diantara mereka diamanahan untuk memimpin pasukan. Maka pantaslah kalau nabi Muhammad SAW kita posisikan menjadi idola yang paling tinggi dari idola lainnya. Nabi pun dengan bijak memberikan pencerahan dan penengah ketika sekelompok umatnya iri terhadap umat yang lain karena masalah harta di perang Hunain. Maka,sobat siroh ada nabi di jari tengah.
2. Jari manis, ukurannya lebih pendek dari jari tengah berdekatan langsung dengan jari tengah. Jari manis, merupakan symbol sahabat yang manis jika berucap, penyejuk hati jika berbuat. Orang yang pertama kali membenarkan perjalanan nabi isro dan mi’raj adalah Abu bakar ra. Kalimat pembenarannya menjadi pemanis untuk nabi. Abu bakar ra, sahabat yang menggantikan nabi menjadi khalifah pertama. Sahabat yang lebih mementingkan keselamatan Nabinya saat bermalam di gua tsur perjalanan hijrah. Hari-harinya Abu Bakar senantiasa menjadi pemanis bagi nabi.
Belajar langsung dari Abu bakar ra, belajar menjadi seorang sahabat yang meneruskan risalah perjuangan, merelakan jiwa dan raga untuk menjadi pemanis nabi dan umatnya. Maka, sobat siroh ada Abu bakar ra di jari manis.
3. Jari telunjuk, berkarakter tegap dan lurus. Sering digunakan sebagai tanda untuk menunjuk arah jalan, untuk bertanya, dan menyatakan kehadiran ketika dipanggil namanya. Lebih menarik lagi jari telunjuk digunakan sebagai tanda tahiyatul setiap ibadah sholat. Karakter Umar bin khatab ra, cocok disimbolkan pada jari telunjuk. Berani berbuat tegas dan lurus ketika menemukan kebenaran. Jari telunjuk digunakan sebagai tanda perintah saat seorang pemimpin memerintah.
Begitulah seorang Umar yang sekali perintah dapat mengembangkan sayap-sayap dakwahnya. Aplikasi nyata dari ajaran Nabi tampak pada diri Umar. Pantas, Umar pernah disebut oleh Rasul,” Jika ada Nabi setelah Nabi Muhammad dialah Umar” Ketika perluasan wilayah pemeluk Agama islam belum luas di zaman nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar ra, di Zaman Umar lah yang dapat memperluas wilayah pemeluk Agama Islam. Semua titik-titik yang di tunjuk Umar untuk dikuasainya hampir semuanya terkuasai. Umar pun pandai menunjuk orang-orang yang membantu pemerintahannya. Maka cermatilah sahabat siroh ada Umar bin khatab ra di jari telunjuk.
4. Jari jempol, lebih gemuk dari jari-jari lainnya sering dijadikan symbol setuju dan rasa suka oleh setiap manusia. Jempol menganalogikan kehidupan yang penuh kemewahan, ada senyum yang terpancar ketika kita berkata “oke” dengan mengacungkan jempol. Bentuknya yang gemuk sebagai simbol tidak adanya kesulitan untuk memenuhi kebutuhan, seperti makan dan minum. Karakter jari jempol bisa disebut karakter orang yang bergelimang harta. Sahabat yang secara nasab sudah kaya raya dan dipilih menjadi khalifah, ialah Utsman bin Affan ra.
Sahabat yang rela dirinya syahid demi melindungi keluarganya agar selalu dekat pada Allah SWT. Sahabat yang bukan menjadi kaya saat memimpin, tapi sebelum memimpin sudah kaya. Bahkan dengan kekayaannya tidak ia pergunakan untuk menjual keimanannya, justru ia mengorbankan seluruh harta untuk agama, bahkan jiwanya. Di akhir hidupnya ia syahid. Maka, renungkanlah sobat sioh ada Utsman bin Affan ra di jari jempol kita.
5. Jari kelingking, bentuknya kecil mungil, lebih kecil dari jari-jari yang lain. Sering digunakan oleh anak-anak meminta maaf kepada temannya ketika berkelahi. Ilustrasi bentuk yang kecil mengibaratkan seorang Khalifah selanjutnya yakni Ali bin abi thalib, sahabat nabi yang memeluk agama islam dalam usia yang sangat muda. Sahabat nabi yang baik hati pada fakir miskin saat dalam kehimpitan rezeki, sahabat nabi yang haus akan ilmu dari usia muda. Motivasi untuk sukses di usia belia dapat kita tiru dari seorang sahabat nabi Ali bin Abi thalib ra. Akhirnya sobat siroh juga ada Ali bin abi thalib di jari kelingking.
Sobat siroh, terus mengisi hidup ini seperti yang dilakukan Nabi. Ilustrasi jari menguatkan kita selalu menjadikan Nabi sebagai solusi hidup. Angkat tangan kanan kalian. Kepalkan, bayangkan mengepal semangat nabi dan khulafaurasyidin. Lalu teriakkan semangat “ Allahu akbar”. Nah, sobat siroh sekali waktu kita lalai kepada nabi kita maka kembalilah segera!!!
DARI NABI UNTUK ANAK INDONESIA
Salam hangat, salam awal, salam keterikatan, salam persaudaraan, SALAM SOBAT SIROH
Assalamu’alaikum wr.wb.
Inspirasi selalu ada, untuk anak-anak dan remaja. Inspirasi yang terucap dari kalimat-kalimat lisan. Inspirasi yang tertatap dari segala pandangan. Semuanya, dapat membolak-balikkan hati. SOBAT SIROH, mari kita belajar…
Idola segala zaman
Ups!! Sobat siroh, terkadang ucapan kita suka tidak terkontrol ya!. Kalau kalimat yang tak terkontrol itu adalah kalimat yang baik kita tidak akan khawatir, tapi kalau yang tak terkontrol itu adalah kalimat yang tak baik apa jadinya???.
Nabi kita Muhammad SAW, sering disebut-sebut Alqur’an yang berjalan. Aktifitas hidupnya penuh dengan pengawasan keimanan. Para sahabat nabi pun senantiasa terjaga aktifitas hidupnya dengan nilai-nilai Alqur’an. Mereka langsung belajar pada idola segala zaman.
Maka sobat siroh kita perlu belajar pada idola segala zaman. Ucapan alami yang baik akan muncul. Sebagai contoh : Seorang siswa SD kelas 1 dengan alaminya, pernah menutupi auratnya dengan plastik hitam pengganti kerudung dan kaos kaki panjang sebagai manset ( lengannya) saat kemping. Cerita lain, seorang anak laki-laki kelas 2 SD menyambung dua celana pendek untuk menutupi auratnya. Kedua celana itu dipakai dan menarik kebawah celana yang bagian dalam. Bahkan ditengah-tengah kerumunan suasana makan, seorang anak melihat gurunya memakan makanan yang terjatuh ke lantai. Ia refleks berkata : Memang nabi pernah makan makanan kotor?.
Alami berbuat dan berucap. Perbuatan dan ucapannya tanpa skenario. Sobat siroh, ingin seperti mereka?. Bagaimana caranya ?
1. Minta dan dengarkan orang terdekat untuk berkisah Idola-idola segala zaman ( Nabi, sahabat dan orang-orang terdahulu yang mengukir sejarah peradaban islam) setiap hari minimal 10 – 15 menit
2. Koleksi dan baca kisah-kisah nubuwwah yang inspiratif, lebih menarik jika mendekati dengan masalah kita dan bagaimana menyelesaikannya
3. Kuatkan rasa bangga pada hati dan diri kita terhadap idola-idola segala zaman.
4. Contoh dan tiru tingkah laku idola segala zaman.
Sobat siroh, Idola segala zaman perlu kita pelajari lebih dalam. Pastinya, cara belajarnya sesuai dengan gaya kita. Ketika kita kesulitan mencari sahabat, kita akan belajar bagaimana idola segala zaman bisa mempunyai sahabat. Ketika kita enggan menunjukkan potensi, kita akan belajar bagaimana sang idola segala zaman menunjukkan potensinya. Bahkan ketika sulit tersenyum kita belajar tersenyum dari idola segala zaman.
Idola Segala Zaman, siap jadi rujukan !!!
Assalamu’alaikum wr.wb.
Inspirasi selalu ada, untuk anak-anak dan remaja. Inspirasi yang terucap dari kalimat-kalimat lisan. Inspirasi yang tertatap dari segala pandangan. Semuanya, dapat membolak-balikkan hati. SOBAT SIROH, mari kita belajar…
Idola segala zaman
Ups!! Sobat siroh, terkadang ucapan kita suka tidak terkontrol ya!. Kalau kalimat yang tak terkontrol itu adalah kalimat yang baik kita tidak akan khawatir, tapi kalau yang tak terkontrol itu adalah kalimat yang tak baik apa jadinya???.
Nabi kita Muhammad SAW, sering disebut-sebut Alqur’an yang berjalan. Aktifitas hidupnya penuh dengan pengawasan keimanan. Para sahabat nabi pun senantiasa terjaga aktifitas hidupnya dengan nilai-nilai Alqur’an. Mereka langsung belajar pada idola segala zaman.
Maka sobat siroh kita perlu belajar pada idola segala zaman. Ucapan alami yang baik akan muncul. Sebagai contoh : Seorang siswa SD kelas 1 dengan alaminya, pernah menutupi auratnya dengan plastik hitam pengganti kerudung dan kaos kaki panjang sebagai manset ( lengannya) saat kemping. Cerita lain, seorang anak laki-laki kelas 2 SD menyambung dua celana pendek untuk menutupi auratnya. Kedua celana itu dipakai dan menarik kebawah celana yang bagian dalam. Bahkan ditengah-tengah kerumunan suasana makan, seorang anak melihat gurunya memakan makanan yang terjatuh ke lantai. Ia refleks berkata : Memang nabi pernah makan makanan kotor?.
Alami berbuat dan berucap. Perbuatan dan ucapannya tanpa skenario. Sobat siroh, ingin seperti mereka?. Bagaimana caranya ?
1. Minta dan dengarkan orang terdekat untuk berkisah Idola-idola segala zaman ( Nabi, sahabat dan orang-orang terdahulu yang mengukir sejarah peradaban islam) setiap hari minimal 10 – 15 menit
2. Koleksi dan baca kisah-kisah nubuwwah yang inspiratif, lebih menarik jika mendekati dengan masalah kita dan bagaimana menyelesaikannya
3. Kuatkan rasa bangga pada hati dan diri kita terhadap idola-idola segala zaman.
4. Contoh dan tiru tingkah laku idola segala zaman.
Sobat siroh, Idola segala zaman perlu kita pelajari lebih dalam. Pastinya, cara belajarnya sesuai dengan gaya kita. Ketika kita kesulitan mencari sahabat, kita akan belajar bagaimana idola segala zaman bisa mempunyai sahabat. Ketika kita enggan menunjukkan potensi, kita akan belajar bagaimana sang idola segala zaman menunjukkan potensinya. Bahkan ketika sulit tersenyum kita belajar tersenyum dari idola segala zaman.
Idola Segala Zaman, siap jadi rujukan !!!
Sabtu, 02 Oktober 2010
Minggu, 23 Mei 2010
Aliyah binti Syuraik Al-Azadiyah Ibunda Imam Malik bin Anas
Biasanya seorang ibu mengandung bayinya selama kurang lebih sembilan bulan. Namun tidak begitu halnya dengan Aliyah binti Syuraik, ia mengandung bayinya, yang kelak diberi nama Malik, selama tiga tahun. Tentunya hal itu adalah sebuah pengorbanan yang tak terkira dan perjuangan yang tak ternilai. Sembilan bulan saja telah Allah gambarkan perjuangan seorang ibu dengan ungkapan "wahnan 'ala wahnin", kecapekkan di atas kecapekkan, sedangkan ini tiga tahun. Barangkali bisa kita bayangkan seperti apa perjuangan jasmani maupun ruhani seorang ibu yang seperti itu.
Tentunya ini merupakan sebuah kelebihan tersendiri bagi imam malik dibanding umumnya manusia. Hal ini juga merupakan bukti kekuasaan Allah Ta'ala. Tidak ada yang mustahil bagi Allah untuk dilakukan. Jika sesuatu telah dikehendakinya maka pasti terjadi, sekalipun dalam pandangan manusia terlihat ganjil.
Malik bin Anas bin Malik Abu 'Amir al-Ashbuhi al-Yamani. Lahir di kota hijrah, Madinah Munawwarah, pada tahun 93 Hijriyyah, tahun meninggalnya Anas bin Malik, sahabat sekaligus pembantu Rasulullah Saw. Ia melalui masa kanak-kanaknya di tengah kemewahan keluarganya. Meski demikian orang tuanya tetap mendidiknya sebagaimana keluarga muslim lainnya mendidik anaknya. Hal pertama kali yang ditekankan kepada anaknya adalah menghafal al-Qur'anul Karim. Sehingga Imam Malik sudah menghafal al-Qur'an dalam usia yang masih dini.
Selesai menghafal al-Qur'an, maka langkah selanjutnya yang dilakukan oleh orang tua Imam Malik adalah menekankan kepadanya untuk menghafal hadits. Hal tersebut dilakoni Imam Malik dengan senang hati lantaran kondisi kota Madinah Munawwarah yang mendukung, lantaran masih kental dengan sunnah-sunnah Rasulullah Saw.
Remaja yang kelak menjadi salah satu imam madzhab yang terkenal itu memiliki semangat yang tinggi dalam menuntut ilmu. Iapun berniat untuk ikut dalam majelis-majelis ilmu para ulama' yang terkenal hari itu.
Niat mulia itupun ia sampaikan kepada ibunya. Aliyah binti Syuraik segera menyiapkan pakaian yang paling bagus untuk buah hatinya tersebut dan memberinya surban sebelum pergi menuntut ilmu.
"Sekarang, pergilah kamu untuk menuntut ilmu, dan catatlah ilmu yang kamu dapat!" kata Aliyah binti Syuraik kepada buah hatinya.
Ia juga berkata kepada anaknya, "Pergilah kepada Rabi'atur Ra'yi, dan pelajarilah ilmunya sebelum kamu mempelajari adabnya!"
Sebuah ungkapan tulus yang tentu meneguhkan hati sang anak untuk tetap istiqamah dalam menimba ilmu pengetahuan.
Benar, ternyata Malik muda sangat antusias mendengar setiap yang disampaikan oleh gurunya. Dari Rabi'atur Ra'yi ia belajar Fiqhur Ra'yi. Semangatnya yang besar itu direkam dan diakui oleh orang-orang yang semasa dengannya. Mereka menyatakan, "Aku melihat Malik duduk di majelis ilmu Rabi'ah. Di telinganya ada semacam anting. Dan itu menunjukkan ketelatenannya dalam menyimak ilmu. Sejak kecil ia sangat telaten untuk menghafal setiap ilmu yang ditulisnya. Biasanya setelah menulis ilmu yang disampaikan ia berjalan menuju sebuah pohon. Di sana ia menghafal lagi apa yang ditulisnya itu. Melihat hal itu, kakak perempuannya segera mengadukan hal tersebut kepada bapaknya.
"Wahai puteriku, biarkan saja, dia sedang menghafal hadits-hadits Rasulullah Saw!" jawab sang bapak dengan bijak.
Sejarah mencatat sejarah perjalanan keilmuannya yang sungguh menakjubkan. Imam Malik mulai menimba ilmu agama setelah menghafal al-Qur'an pada usia kurang lebih sepuluh tahun. Setelah itu ia mahir dan cakap dalam berfatwa serta duduk di majelis untuk menyampaikan ilmunya pada usia dua puluh satu tahun. Pada usia yang sangat muda belia sudah banyak jama'ah yang meriwayatkan hadits darinya. Pada akhir masa Khalifah Abu Ja'far al-Manshur dan masa-masa setelahnya banyak sekali orang-orang yang hadir di majelis ilmunya. Hingga pada masa Khalifah Harun ar-Rasyid sampai ia meninggal semakin berduyun-duyun murid-muridnya.¹ (Tartibul Madarik 1/111, al-Wafayat 4/137, al-'Ibar 1/272).
Imam Malik. Al-Faqih. Syaikhul Islam. Hujjatul Ummah. Imam Darul Hijrah. Itulah gelar-gelar keilmuan yang disandangkan ummat Islam kepadanya. Dan semua itu dirintis berawal dari lingkungan keluarga yang sangat kental dengan tradisi keilmuan.
Minggu, 11 April 2010
Langganan:
Postingan (Atom)


